Pulau Kembang adalah Delta yang membelah Sungai Barito nan luas . Secara administratif, Pulau Kembang berada di wilayah administratif Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Provinsi Kalimantan Selatan. Pulau ini dihuni oleh kera berekor panjang yang populsinya sangat banyak dan membentuk koloni-koloni. “Sejak 1920, hingga masa akhir Hindia Belanda pada 1942, Pulau Kembang oleh para meneer Belanda disebut dengan Apeneiland, atau pulau para kera. Bukan pulau monyet atau monkeys. Kedua hewan dari klasifikasi ilmiah sangat berbeda, sebab kera berasal dari superfamili Hominoidea. Sedangkan, monyet termasuk superfamili Cercopithecidae dengan satu famili yakni Cercopithecidae. Secara fisik, perbedaan antara kera dan monyet paling kentara dan mudah dikenali adalah keberadaan ekor,” Sebagian kepercayaan masyarakat Banjar, masih meyakini Pulau Kembang adalah delta yang terbentuk akibat kapal perang Inggris atau Belanda tenggelam, setelah terlibat pertempuran dengan para punggawa Kerajaan Banjar. Hingga, monyet ekor panjang dan bekantan kerap dikaitkan dengan ‘kutukan’ terhadap para penjajah itu.
Amir Hasan Bondan Dalam bukunya suluh kalimantan menulis wilayah Pulau Kembang merupakan bagian dari wilayah gaib yang ada penjaganya. Secara rinci, Amir Hasan Bondan yang merupakan sejarawan sekaligus wartawan ini menyebut penguasa gaib Pulau Kembang adalah Pangeran Kacil Kertas Melayang, di antara 13 penguasa gaib lainnya di Tanah Banjar. Rinciannya, penguasa gaib Muara Banjar adalah Pangeran Suryanata, Cerucuk dipercayakan kepada Pangeran Musarana, Ujung Panti dikuasai Pangeran Aria Manggung, Taluk Sarapat jadi wilayah kekuasaan Pangeran Kaca Mendung, Pulau Datu oleh Pangeran Kuning (Datu Pamulutan), Tanjung Dewa tersebut nama Pangeran Bagalung. Lalu, penguasa gaib Tanjung Silat di bawah kendali Patih Simbat, Muara Mantuil oleh Patih Muhur, Pulau Kaget dikuasai Patih Hambaya, Ujung Balai jadi wilayah Patih Langlang Buana, Pulau Tempurung (Patih Huruk), Ujung Telan (Patih Lalangir) dan terakhir Ujung Paradatua dikuasai Patih Rumbih. mungkin hal ini kemungkinan berumber dari kepercaya masyarakat setempat yang menjadi sumber cerita terebut. “Nah, konon kabarnya ketika orang bernazar dengan membawa sesajen berupa mayang dan kembang-kembang, maka hajatnya terkabul, akhirnya pulau itu dikaitkan dengan aktivitas menabur kembang hingga akhirnya dikenal dengan Pulau Kembang,”
Pulau Kembang sebagai daerah tujuan wisata mulai mengemuka ketika dirilis Majalah Travel (wisata) Hindia Belanda, Tropisch Nederland, volume 12 yang terbit tahun 1939.
Dalam artikel bertajuk Bandjermasin, Borneo oleh M.J.A. Oostwoud Wijdenes, dituliskan bahwa kalau travelers berangkat dari Martapura berlayar melewati Kween ke barat, akan tiba di Sungai Barito, tepat di Apeneiland (Pulau monyet), Poelau Kembang. “Sebuah delta yang tidak bisa dilalui. Tempat itu adalah tempat kawanan kera menetap (bermukim) secara permanen,” katanya.
Pulau Kembang sampai sekarang masih menjadi primadona wisata di kalimantan selatan karena tempatnya yang eksotis, selain itu menuju ke sana kita menggunakan perahu bermesin di kalimantan selatan disebut dengan nama kelotok selama perjalanan kita melalui perkampungan kuin yang masih asri, melawati mesjid pertama di kalimantan selatan, dan makam raja banjar pangeran Suriansyah yang merupakan raja islam pertama di kalimntan selatan. kita juga bis mampir di pasr terapung kuin, tapi sayangnya pasar itu sekarang sudah tidak ada lagi tergerus oleh jaman.
Nah kalo kalian kesini jangan lupa bawakan makanan buat monyet-monyet disini ya, ajak keluarga, tetangga, teman atau komunitas kalian.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar