Padang Savana Di Bukit Timah Pelaihari (Tempat Bersejarah Pejuangan Pertempuran Rakyat Batakan)

Bukit Timah Terletak di wilayah Desa Tanjung Dewa, Kecamatan Panyipatan atau sekitar 45 kilometer dari Pelaihari, ibu kota Kabupaten Tanah Laut.



Saat ini, bukit itu sudah dilengkapi fasilitas anak tangga untuk mendaki dan pegangan dari besi dicat warna warni untuk pengunjung berpegangan supaya tidak terpeleset.


Dulu daerah ini merupakan tempat bersejarah,Sebelum mendekati kawasan obyek wisata Bukit Timah, pengunjung pasti melewati tugu pahlawan yang membelah jalan milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Tugu yang dibangun untuk mengenang heroik pahlawan Batakan. Warga setempat menyebutnya Palagan Batakan. Di tugu itu terlukis relief gelora pertempuran yang terjadi di Bukit Timah itulah benteng pertahanan pejuang yang menghujani musuh dari atas dengan senjata seadanya.

Salah Seorang warga bercerita dahulu banyak terdapat selongsong peluru di puncak bulit Timah. Selongsongan peluru itu diduga bekas pertempuran pejuang mempertahankan republik dari tentara sekutu yang ingin kembali menjajah Indonesia.


     ( Foto : Pantai Batakan Terlihat dari kejauhan, tanjung dewa dan pulau datu)


Dua gazebo dibangun pengelola di anak tangga pertama dan satu gazebo di pertengahan anak tangga, untuk tempat sekedar melepas penat sbelum melanjutkan menaiki anak tangga ke puncak bukit timah Dari situ sudah tampak hamparan perkebunan kelapa sawit.





       (Chanel You Tube Arpi Doank14, Padang Savana Di Bukit Timah Pelaihari)




Jika mendaki hingga puncak bukit Timah, mata kita akan dimanjakan oleh panorama padang savana dan dari sebelah kanan dri kejauhan terlihat bukit birah . selain itu pengunjung dapat melihat langsung hamparan pesisir pantai Tanjung Dewa dan Pulau Datu serta perkebunan.


Di Puncak bukit kita bisa merasakan sejuknya angin yang bertiup dan kita bisa bersantai juga dengan duduk duduk di tempat serupa gazebo yang di lengkapi dengan tangga semacam menara pengawas

Belum ada sarana tempat parkir kendaraan yang representatif. Tapi petugas dari karang taruna Desa Tanjungdewa siap menjaga titipan kendaraan dengan jasa Rp 5000.


Kapan Lagi ayo mampir ke bukit Timah pelaihari kalimantan selatan.





Klenik Asal Mula Pulau Kembang

Pulau Kembang adalah  Delta yang membelah Sungai Barito nan luas  . Secara administratif, Pulau Kembang berada di wilayah administratif Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Provinsi Kalimantan Selatan. Pulau ini dihuni oleh kera berekor panjang yang populsinya sangat banyak dan membentuk koloni-koloni. “Sejak 1920, hingga masa akhir Hindia Belanda pada 1942, Pulau Kembang oleh para meneer Belanda disebut dengan Apeneiland, atau pulau para kera. Bukan pulau monyet atau monkeys. Kedua hewan dari klasifikasi ilmiah sangat berbeda, sebab kera berasal dari superfamili Hominoidea. Sedangkan, monyet termasuk superfamili Cercopithecidae dengan satu famili yakni Cercopithecidae. Secara fisik, perbedaan antara kera dan monyet paling kentara dan mudah dikenali adalah keberadaan ekor,” Sebagian kepercayaan masyarakat Banjar, masih meyakini Pulau Kembang adalah delta yang terbentuk akibat kapal perang Inggris atau Belanda tenggelam, setelah terlibat pertempuran dengan para punggawa Kerajaan Banjar. Hingga, monyet ekor panjang dan bekantan kerap dikaitkan dengan ‘kutukan’ terhadap para penjajah itu.

Amir Hasan Bondan Dalam bukunya suluh kalimantan menulis wilayah Pulau Kembang merupakan bagian dari wilayah gaib yang ada penjaganya. Secara rinci, Amir Hasan Bondan yang merupakan sejarawan sekaligus wartawan ini menyebut penguasa gaib Pulau Kembang adalah Pangeran Kacil Kertas Melayang, di antara 13 penguasa gaib lainnya di Tanah Banjar. Rinciannya, penguasa gaib Muara Banjar adalah Pangeran Suryanata, Cerucuk dipercayakan kepada Pangeran Musarana, Ujung Panti dikuasai Pangeran Aria Manggung, Taluk Sarapat jadi wilayah kekuasaan Pangeran Kaca Mendung, Pulau Datu oleh Pangeran Kuning (Datu Pamulutan), Tanjung Dewa tersebut nama Pangeran Bagalung. Lalu, penguasa gaib Tanjung Silat di bawah kendali Patih Simbat, Muara Mantuil oleh Patih Muhur, Pulau Kaget dikuasai Patih Hambaya, Ujung Balai jadi wilayah Patih Langlang Buana, Pulau Tempurung (Patih Huruk), Ujung Telan (Patih Lalangir) dan terakhir Ujung Paradatua dikuasai Patih Rumbih. mungkin hal ini kemungkinan berumber dari kepercaya masyarakat setempat yang menjadi sumber cerita terebut. “Nah, konon kabarnya ketika orang bernazar dengan membawa sesajen berupa mayang dan kembang-kembang, maka hajatnya terkabul, akhirnya pulau itu dikaitkan dengan aktivitas menabur kembang hingga akhirnya dikenal dengan Pulau Kembang,”

Pulau Kembang sebagai daerah tujuan wisata mulai mengemuka ketika dirilis Majalah Travel (wisata) Hindia Belanda, Tropisch Nederland, volume 12 yang terbit tahun 1939.



                                                    

Dalam artikel bertajuk Bandjermasin, Borneo oleh M.J.A. Oostwoud Wijdenes, dituliskan bahwa kalau travelers berangkat dari Martapura berlayar melewati Kween ke barat, akan tiba di Sungai Barito, tepat di Apeneiland (Pulau monyet), Poelau Kembang. “Sebuah delta yang tidak bisa dilalui. Tempat itu adalah tempat kawanan kera menetap (bermukim) secara permanen,” katanya.

Pulau Kembang sampai sekarang masih menjadi primadona wisata di kalimantan selatan karena tempatnya yang eksotis, selain itu menuju ke sana kita menggunakan perahu bermesin di kalimantan selatan disebut dengan nama kelotok selama perjalanan kita melalui perkampungan kuin yang masih asri, melawati mesjid pertama di kalimantan selatan, dan makam raja banjar pangeran Suriansyah yang merupakan raja islam pertama di kalimntan selatan. kita juga bis mampir di pasr terapung kuin, tapi sayangnya pasar itu sekarang sudah tidak ada lagi tergerus oleh jaman.



Nah kalo kalian kesini jangan lupa bawakan makanan buat monyet-monyet disini ya, ajak keluarga, tetangga, teman atau komunitas kalian.


                                       (Foto : Berinteraksi dengan Monyet monyet ekor panjng)

Bukit Tamiyang, Padang Rumput Yang Asri

Bukit Tamiang


Saya penasaran dengan cerita teman-teman dan orang orang tentang salah satu bukit yang ada di daeah pelaihari ini Bukit Tamiang nama bukitnya, terletak di daerah Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. terus dengan bermodalka sedikit pengetahuan tentang arah ke bukit ini saya beranikan diri berngkat dari kota banjarmasin, jarak yang di tempuh kira kira ke kota pelaihari sekitaran -+ 120 Menit (2Jam) setelah sampai ke kta pelaihari sekarang saya menuju ke arah Patai Batakan dengan menggunakan GPS dari HP kami sedikit kebingungan juga menentukan arah mugkin karena jaringan lagi tidak bagus atau karena HP nya yang Error. akhirnya kami pakai GPS manual ( Gunakan Penduduk Sekitar) hehehe...mampir deh ke warung dipinggir menanyakan arah dan membeli sedkit air buat bekal. nah akhirnya ketemu juga ni bukit   Perjalanan menuju Bukit Tamiang ini searah dengan menuju Pantai Batakan, sehingga view yang ditawarkan pun ada perkebunan, perbukitan, dan juga pantai nan eksotik.
                     

Untuk menuju puncak bukit Tamiang ini, kita membutuhkan waktu kurang lebih 30 - 1 jam menuju puncak dengan trek yang bervariasi dan sedikit menantang. Namun itu semua akan terbayarkan dengan pemandangan yang hijau nan asri

Bukit Tamiang, Kab. Tanah laut.

 

 

Kita bisa menitipkan sepeda motor atau mobil di pengelola bukit ini, biasanya ketua RT desa setempat dengan biaya yang cukup  terjangkau dan dijamin aman gaess. pertama tama kita akan melalui kebun kebun milik warga, teang masih belum menanjak kok etelah kira kira 100m, ah disini kita sudah mulai menyiapkan tenaga ekstra masih melewati perkebunan perkebunan warga tapi ingat ya gaess jangan di petik buah buahan yang kita temui di depanjang perjalanan, setelh ini rasakan sensasinya keren full kalo kita meengok ke belakang kita bisa melihat perumahan perumahan, terus bukit bukit dari kejauhan terus kalo cuaca lagi bagus kita di sajikan sunset yang full mantap, tnjakan berikutnya kita meleti padang rumput yang sangat luas sepanjang mata memandang menyejukkan mata

 


Nah kapan lagi kalian mau kesini ajak keluarga, tetangga, teman, handai tauladan, atau komunitas juga boleh, dijamin tidak bakaln rugi kok.


                                         ( Foto : Salah satu spot foto terbaik di Bukit Tamiang)






                                                (Foto : Ketika Sunset Di Bukit Tamiang)

Tapi ingat ya...klo kesini jangan lupa sampahnya bawa turun kembali ke bawah, Jangan Mengambil Sesuatu Selain Foto, Jangan Meningglan sesuatu selain jejak, dan Jangan membunuh sesuatu selain waktu...salam lestari ya gaessss

NB : Bukit Tamiang Terletak Di Desa Kandangan Baru, tanah Laut Pelaihari Kalimantan Selatan

Air Terjun Putri, Mandiangin Tahura Sultan Adam

  “Air terjun di  Tahura Sultan Adam  Mandiangin memiliki 3 tempat, yakni air terjun Mandin Putri. Air terjun ini mempunyai ketinggian sekit...